Gibran Tidak Paham GreenFlation

Oleh : Ratna Kinasih
Pada debat keempat, Gibran kembali mengandalkan jurusnya mempertanyakan dengan singkat seperti pertanyaan SMA. Entah bermaksud menjegal lawan debat atau ingin terlihat pintar. Yang jelas ini sebagai bentuk strategi menjebak lawan debat. Sebab Gibran melakukan tidak hanya satu atau dua kali saja, hampir semua pertanyaan dilakukan seperti itu. Bahkan waktu sisanya tidak digunakan untuk menjelaskan maksud pertanyaannya.

Terlepas dari maksud strateginya, ada salah satu yang membuatku risih atau jengkel terhadap pertanyaan dan respon Gibran. Soal bagaimana menangani GreenFlation serta respon Gibran yang mengaku jawaban Mahfud tidak menjawab dengan sikap songongnya.

Padahal GreenFlation atau Inflasi Hijau berkaitan dengan ekonomi hijau sendiri. Jika menginginkan pengendalian inflasi harus membatasi permintaan ataupun meningkatkan produksi ekonomi tersebut. Dan jelas jawaban Mahfud tentang ekonomi hijau dan pengendalian inflasinya berdasarkan data alias tidak bisa serta-merta mengambil kebijakan tanpa data.

Lebih mudahnya, inflasi terjadi adanya lonjakkan permintaan ataupun terjadinya penurunan stok. Semisal saat permintaan minyak goreng tinggi, harga otomatis akan naik. Begitu juga saat stok menurun dan jumlah permintaan sama, akan tetap mengalami kenaikan harga. Apalagi ketika keduanya terjadi, peningkatannya bisa gila-gilaan, seperti harga masker dahulu.

Begitu juga dengan GreenFlation, berkaitan dengan pengadaan biodiesel  dari kelapa sawit dan bioetanol hasil dari bahan baku jagung.  Seperti yang kita tahu keduanya merupakan bahan untuk pembuatan kebutuhan pokok, mulai dari minyak goreng, tepung jagung, pati jagung, hingga marning jagung. 

Jika terjadi peningkatan pembuatan ekonomi hijau secara besar-besaran, akan membuat harga kelapa sawit, jagung, hingga produk olahan mengalami kenaikan harga besar-besaran. Bahkan kebutuhan pokok tersebut bisa menjadi langka alias masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng, ditambah dengan harga tinggi.

Jadi secara umum Mahfud sudah menjelaskan pertanyaan Gibran soal pengendalian GreenFlation. Dengan melihat semua data tersebut dan mengambil langkah sesuai dengan datanya. Jika bahan baku berkurang, bisa saja dilakukan dengan menggandeng petani untuk menanam jagung secara besar-besaran ataupun dengan cara selainnya. 

Justru Gibran tidak paham terhadap GreenFlation. Makanya ketika dijelaskan tersebut dan ekonomi hijau, dia masih kekeh tidak menemukan jawaban. Bahkan bisa dianggap Gibran hanya menghafal semuanya tanpa memahami sedikit pun gagasan yang dibawa. Parahnya jawaban Gibran dan selainnya hanya normatif saja.

Lebih parah lagi dengan sikapnya yang merendahkan Prof Mahfud dengan gimmick. Bagaimana tidak, soalnya Gibran tidak memahami pertanyaannya sendiri maupun jawaban dari Mahfud. Sudah pemahaman seperti itu, ditambah sikap songongnya. Jadinya tidak punya etika ataupun adab.

Seharusnya debat cawapres diwarnai dengan adu gagasan maupun solusi terhadap masalah, bukan gimmick. Bagiku Mahfud yang mampu memaparkan gagasan serta menawarkan penyelesaian masalah. Sedangkan Gibran cenderung bermain gimmick dan pemaparan gagasan yang normatif serta tidak adanya solusi terhadap masalah.

Bisa dilihat dari pernyataan Gibran soal IUP tambang illegal dicabut. Namanya ilegal sudah pasti tidak memiliki izin, jadi izin siapa yang dicabut. Begitu juga soal pengendalian inflasi ekonomi hijau.

Sudah waktunya mengembalikan Marwah demokrasi dengan pemilihan jurdil tanpa intervensi pemerintah, menggunakan etika dalam debat capres-cawapres, memilih pemimpin berdasarkan kemampuan bukan dari gimmick, hingga seorang calon pemimpin memiliki etika yang baik.

Comments

Popular posts from this blog

Hancurnya Suku Aztec, Sang Penyembah Matahari

Bagaimana Sulitnya Musuh Menembus Tembok Konstantinopel

Letnan Komarudin, Si Kebal Peluru dan Salah Tanggal