Prabowo Yang Punya Bidangnya Kalah Dengan Ganjar Yang Menguasai Problematika Hari Ini

Oleh : Rahman Hartala


Debat capres memang sudah ditunggu oleh masyarakat Indonesia. Ya inilah pesta demokrasi yang mejadi moment mencari dan memilih siapa gerangan capres yang membawa visi-misi serta program yang akan dijalankan sesuai bekal dari rekam jejaknya. 

Kali ini, yang memang menjabarkan secara komplit dan detai adalah Ganjar Pranowo. Tugas seorang pemimpin adalah melindungi dan mengayomi rakyat, maka kita harus menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif sesuai dengan yang kita jalankan selama ini. 

Hal itu yang termasuk dalam kondisi terkini tentang problem global seperti COVID-19 yang memang kemarin melanda dunia. Namun sebelum kita aktif ke kancah internasional, langkah lebih baiknya kita mengutamakan yang terjadi dalam nasional. 

Banyak kebutuhan rakyat yang memang harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan medis, kebutuhan sehari-hari, teknologi untuk menyelesaikan peran masyarakat dalam profesinya masing-masing sampai pada kebutuhan pokok berupa pangan. 

Tentu konsen utama pada kebutuhan primer dimana di sana ada kepentingan utama rakyat untuk mempertahankan hidup. Jauh sebelum COVID melanda, cita-cita besar negara adalah mandiri pangan, agar saat kita dihadapkan dengan situasi bahaya yang melanda dunia, Indonesia mampu bertahan tanpa menunggu sekaligus mencari-cari pasokan makanan dari luar negeri. 

Ganjar memiliki agenda besar itu, bahkan di masa kepemimpinannya di Jateng dia sudah mewujudkan provinsinya sebagai lumbung beras nasional. Namun nyatanya ketahanan pangan itu tidak bisa dilaksanakan oleh seorang Prabowo Subianto, yang gagal dalam proyek strategis nasional food estate untuk menghasilkan singkong sebagai pendamping beras. 

Sebenarnya ini sudah masalah lama, yang masih terus ditagih bagaimana penyelesaiannya, lahan food estate itu kini menjadi mangkrak karena tidak mendapat perawatan khusus. Mengapa bisa begitu? Karena tidak ada pakar yang dilibatkan! Karena memang ladang singkong yang diharapkan subur dan berhasil, dijadikan ladang bisnis! Tidak ada ahli tanah maupun pakar yang paham soal penanaman singkong di tanah Tewai Baru, Gunung Mas Kalimantan Tengah. 

Hanya ditanam lalau ditinggal, bagaimana bisa mau tumbuh dnegan baik? Masyarakat sekitar pun tidak diperbolehkan untuk ikut campur dalam proyek pangan yang besar itu. Bahkan mereka yang ingin meminta sebatang kayu saja dilarang keras, mereka yang paham akan kondisi tanah mereka tidak dilibatkan, bahkan tidak ada diskusi bareng untuk bergotong-royong untuk menyukseskan program kemandirian pangan itu karena Menhan hanya membagi proyek negara itu dengan komplotannya saja.

Jauh berbeda dengan Ganjar yang terus berupaya dalam memberdayakan SDM dan SDA di daerah kepemimpinannya. Jateng bisa menjadi lumbung beras nasional karena support system yang mengalir baik. Ganjar membuat embung yang jumlahnya lebih dari seribu di Jateng dengan manfaat membantu mengairi area sawah. 

Pupuk subsidi yang langka berusaha dikelola dengan baik agar tidak salah terima melalui Kartu Tani. Di lain sisi Ganjar juga mendukung pelaku UMKM untuk mendunia dengan singkong yang tumbuh subur di Jateng, pengelolaannya menjadi mocaf. Produk pangan beraneka modelnya bukan hanya dikonsumsi oleh warganya tapi juga disalurkan ke luar daerah sampai luar negeri. 

Bukan hanya kebutuhan pangan berzat karbohidrat, ada pengolahan perikanan dengan mendukung penuh pergerakan para nelayan. Ganjar memberi bekal aplikasi hingga Kartu Nelayan yang memudahkan mereka untuk menjangkau akomodasi saat melaut. 

Dengan begitu bukan hanya kemandirian pangan saja yang dicapai, namun juga ada peran Ganjar membawa terbang produk dalam negeri ke kancah internasional. Bukan hanya produk pangan namun juga atribut keamanan dan pertahanan seperti seragam hingga alutsista. Namun Ganjar sangat menyayangkan lagi tindakan Prabowo yang suka berbelanja alutsista bekas dari luar egerei seperti pesawat Mirage 2005. 

Saat ditanyakan, Prabowo hanya menjawab sekenanya, bahwa memang bekas masih bisa dipakai dan memenuhi kebutuhan aparat negara saat ini. Tapi bung, keselamatan aparat itu yang utama, tidak masalah jika bekas namun bagaimana jika usianya sudah tua? 

Prabowo sendiri menjelaskan bukan soal bekasnya tapi usianya. Tinggal 10 tahun lagi masa normal usia peswat bekas itu, berkurang lagi karena melalui masa beberapa tahun untuk bisa mendarat di Indonesia karena ada teknis administrasinya. Prabowo tidak memiliki jawaban dari apa tujuannya membeli alutsista bekas yang lebih konkret. 

Ganjar menilai perencanaan Prabowo gegabah, buktinya hari ini rencana itu ditunda bahkan isunya batal dilakukan. Sebagai menhan, keseriusan itu tidak dimunculkan hingga membuat PT. PAL harus menerima getahnya dengan utang yang menumpuk. 

Ganjar tidak mau pertahanan dan keamanan negeri ini jalan di tempat ataupun mengalami kemunduran karena hutang naik, barang bekas pun banyak dikumpulkan yang justru merugikan negara karena biaya perawatannya yang ekstra besar. 

Tidak heran Ganjar memberikan ketegasannya untuk menghadirkan perbaikan itu dengan taglinenya No utang No usang. 

Secakap itu seorang Ganjar, masak sih kamu masih bilang Pak Prabowo menguasai bidangnya? Big No, panggung debat mala mini tentang pertahanan, kemanan negara, masalah geopolitik serta hubungan negara, justru dipegang oleh Ganjar, dengan data realistis dan sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Karena Ganjar adalah sosok pemimpin yang memang selalu menyelaraskan pikiran, perkataan dan perbuatan.

Comments

Popular posts from this blog

Hancurnya Suku Aztec, Sang Penyembah Matahari

Bagaimana Sulitnya Musuh Menembus Tembok Konstantinopel

Letnan Komarudin, Si Kebal Peluru dan Salah Tanggal